|
|
SEHATI” Digelar, RSUD dr. Iskak Didesak Buktikan Layanan Humanis Bukan Sekadar Slogan |
Tulungagung - cairantinta.id , Komitmen pelayanan kesehatan berbasis kemanusiaan kembali digaungkan. RSUD dr. Iskak Tulungagung menggelar pelatihan bertajuk “SEHATI” (Sehat, Empati, Humanis, Akurat, Terbaik), Rabu (15/4/2026). Namun, di balik jargon yang terdengar ideal, publik menanti: sejauh mana implementasinya benar-benar menyentuh pasien, bukan sekadar formalitas birokrasi?
Pelatihan yang berlangsung di Auditorium IDIK itu dibuka langsung oleh Ahmad Baharudin. Kegiatan ini melibatkan perwakilan tenaga medis dan staf yang disiapkan menjadi motor penggerak perubahan bagi total 1.894 pegawai rumah sakit.
Mengikat Standar, Menguji Integritas Layanan
Program “SEHATI” dirancang sebagai langkah strategis—bukan hanya meningkatkan kompetensi medis, tetapi juga membangun kesadaran etik dan empati dalam pelayanan. Materi yang diberikan mencakup penguatan kerja tim, teknik pelayanan prima, hingga kecerdasan emosional dalam menghadapi pasien.
Direktur rumah sakit, Zuhrotul Aini, menegaskan bahwa status rumah sakit tipe A membawa konsekuensi hukum dan moral untuk menghadirkan layanan yang tidak diskriminatif dan profesional.
“Kesembuhan pasien bukan semata hasil tindakan medis, tetapi juga ditentukan oleh interaksi, sikap, dan lingkungan pelayanan,” tegasnya.
Pernyataan ini sekaligus menjadi pengingat keras: dalam perspektif hukum kesehatan, pelayanan yang abai terhadap aspek kemanusiaan berpotensi menimbulkan sengketa—baik etik maupun hukum.
Aspek Non-Medis Tak Lagi Bisa Diabaikan
Dalam sambutannya, Ahmad Baharudin menyoroti sisi yang kerap luput dari perhatian: aspek non-medis. Keramahan petugas, kebersihan ruang, hingga kenyamanan lingkungan dinilai sebagai bagian tak terpisahkan dari hak pasien.
“Pasien datang dengan harapan sembuh. Maka, sikap dan suasana menjadi bagian dari terapi itu sendiri,” ujarnya.
Pesan ini bukan sekadar imbauan. Dalam kerangka pelayanan publik, standar kenyamanan dan perlakuan manusiawi telah menjadi indikator yang bisa diukur—dan dipertanggungjawabkan.
Ujian Nyata Ada di Lapangan
Pemerintah Kabupaten Tulungagung menyatakan siap bersinergi mendorong inovasi layanan kesehatan. Namun, komitmen tersebut akan diuji di ruang-ruang perawatan, bukan di ruang seremoni.
Standarisasi yang ketat harus berjalan seiring dengan nilai kemanusiaan. Jika tidak, kepercayaan publik bisa runtuh—dan itu bukan sekadar krisis citra, melainkan persoalan serius dalam tata kelola pelayanan kesehatan.
Manajemen RSUD dr. Iskak optimistis program ini akan memperkuat posisinya sebagai rumah sakit rujukan utama di Jawa Timur. Tapi publik tak butuh janji—yang ditunggu adalah bukti.
Di akhir kegiatan, Ahmad Baharudin mengingatkan seluruh jajaran rumah sakit untuk menjaga soliditas tim dan konsisten menghadirkan layanan humanis.
Pesannya singkat, tapi tegas: pelayanan bukan hanya soal menyembuhkan, melaink
an juga memanusiakan. ( Red/Ko)
